Kualitas pembangunan konstruksi di Indonesia tidak kalah dengan luar negeri. Bahkan, konstruksi di Indonesia memiliki keandalan apresiasi alam, berbeda dengan negara asing yang mengendalikan alam dengan menerjang alam. Dengan begitu konstruksi di Indonesia bersifat global dengan keunikan lokal. Demikian dikatakan Eko Ketua Dewan Juri Lomba Konstruksi 2007 di TVRI (26/10).
Lebih lanjut Eko mengatakan, selama ini kita selalu merasa minder berhadapan dengan orang dari negara barat. Padahal kita sendiri memiliki kemampuan yang tidak kalah. Ini yang harusnya diberikan dalam bentuk motivasi supaya rasa minder tersebut tidak menyebar.
Selain dari segi konstruksi yang kuat, dari segi arsitektur, konstruksi kita memiliki keunikan, kekhasan dan karakter lokal. “Konsep arsitektur yang mengarah ke masyarakat bagus sekali.” ujar Eko.
Dijelaskannya, di Bali ada bangunan yang tidak menebang satu pohon pun, tidak memotong bukit menunjukkan kita memiliki keandalan apresiasi alam. Hal tersebut yang perlu dilestarikan.
Berkaitan dengan lomba Konstruksi Indonesia 2007, Departemen Pekerjaan Umum (PU) sudah menyebarkan brosur, leaflet dan publikasi ke berbagai pihak, diharapkan masyarakat dapat ikut berpartisipasi aktif. Para peserta lomba selain mengirimkan hasil karya dalam bentuk selembaran foto, juga harus harus menyajikan karya-karyanya dalam bentuk video compact disc (VCD), gambar dan lain-lain.
“Masyarakat perorangan, Pemda, aparat Pemerintah pusat, lembaga jasa konstruksi, siapapun bebas untuk mengajukan dan apa yang harus diajukan, berupa gambar, desain, akan lebih bagus jika berupa VCD disertai penjelasannya dan nanti akan kita undang setelah kita seleksi kemudian kita ajak bicara dimana letak keunggulannya. Jika sempat akan kita lihat sendiri supaya tidak dibohongi.” Jelas Eko.
Menurut Eko, karya peserta dari tahun ke tahun semakin baik. “Bahkan, kami tidak menduga ada karya sebagus itu.” Tegas Eko.
Berkaitan dengan karya yang akan dinilai yakni adalah bangunan-bangunan baru. Karena dari tahun ke tahun sudah ada penilaian, mungkin bangunan yang berumur lima tahun, bukan lagi bangunan tua. Itu sudah ada timnya sendiri. Eko berpikir, nenek moyang kita sudah meninggalkan seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan dan bangunan lainnya yang mengagumkan.
“Kita tunjukkan untuk karya bangsa yang mutakhir ini juga banyak yang bermunculan. Karya-karya unggulan ini yang kita harapkan yang akan disampaikan kepada kita,” terang mantan Rektor Universitas Diponogoro tersebut.
Untuk Konstruksi Indonesia 2007 kali ini akan ada 4 juara dari masing-masing kategori. Dewan juri berjumlah 9 orang yaitu Prof. Eko budiardjo sebagai ketua,Udi dari Bandung sebagai sekretaris, kemudian sekretaris Haryono dari Departemen PU, Staf Ahli Menteri PU bidang Sosial Budaya dan Peranan Masyarakat Bambang Guritno PU, Haidir Mukarim, Davi Sukamta, Bambang Eridawan dari perwakilan ikatan arsip indonesia. (ind)
Sumber : Pusat Komunikasi Publik Departemen Pekerjaan Umum
http://www.pu.go.id/index.asp?link=Humas/news2003/ppw261007etty.htm
Filed under: Civil Engineering | Leave a Comment
Tags: engineer
No Responses Yet to “Konstruksi Global Dengan Keunikan Lokal”